Rabu, 25 November 2015

Peralatan-Peralatan Canggih Yang Tak Lama Lagi Akan Mengubah Dunia
peralatan teknologi canggih
Perkembangan teknologi yang sangat pesat membuat para ilmuan dunia tidak ada henti-hentinya untuk membuat sebuah terobosan baru di dunia teknologi. Beberapa peralatan yang kita gunakan sehari-hari (Gadget) sudah mulai menggunakan materi berukuran mikro, bahkan nano dan berukuran makin lama kian kecil. Dengan ukuran yang sedemikian praktis ini, maka akan membuat keseharian kita akan lebih dimudahkan olehnya.
Dari sekian banyak peralatan tersebut, kami akan membahas 15 saja diantaranya, mulai dari perangkat yang memang Anda dapat digunakan sehari-hari, atau sekedar perangkat hobby, pengisi luang waktu, hingga perangkat yang dapat menciptakan perangkat lainnya, atau bahkan perangkat yang dapat menciptakan bagian dari tubuh anda!
Peralatan penunjang keseharian nan canggih ini juga memiliki ukuran yang beragam, dari yang hanya sekecil koin hingga yang sebesar mobil. Berikut ke-19 peralatan canggih yang dapat mengubah dunia tak lama lagi tersebut:
Transparent Solar Cell (TLSC)

Panel surya transparan atau disebut Transparent Luminescent Solar Concentrator(TLSC), adalah sel surya transparan terbaru. Karena transparan alias tembus pandang, maka dapat digunakan sekaligus sebagai jendela
Panel Surya “tak terlihat” tersebut baru-baru ini dikembangkan oleh para peneliti di Michigan State University. Dulunya hal ini merupakan prestasi yang pernah dianggap mustahil, karena panel surya tradisional menyerap cahaya dan mengubahnya menjadi energi, tetapi permukaan transparan tidak biasanya mampu menyerap cahaya.
Untuk membuat sel surya transparan, peneliti memilih untuk sistem yang berbeda yang disebut konsentrator surya bercahaya transparan (TLSC), yang berisi garam organik yang menyerap panjang gelombang tidak terlihat, spesifiknya untuk sinar ultraviolet dan sinar inframerah.
Cahaya ini kemudian dipandu menuju sel surya fotovoltaik tradisional yang mampu menjebak energi dan mengubahnya menjadi listrik. Tidak hanya dapat digunakan untuk jendela, tetapi bahan ini juga dapat digunakan pada perangkat elektronik dan memberi mereka energi listrik dari sumber yang berpotensi memperpanjang keberadaan energi untuk peralatan elektronik secara signifikan. (video).
Quick Battery Rechargeable

Menggunakan teknologi nano untuk mensintesis molekul buatan, perusahaan di Tel Aviv, Israel bernama StoreDot mengaku telah mengembangkan sebuah baterai yang dapat diisi dengan cepat dan menyimpan daya jauh lebih tinggi. Baterai tersebut bertindak seperti spons super padat yang dapat menghisap daya dan menyimpannya.
Salah seorang investor StoreDot adalah miliarder Rusia, Roman Abramovich, yang juga pemilik klub terkenal Inggris, Chelsea. Perusahaan memperoleh dana US$ 48 juta melalui dua sumber, termasuk dukungan dari sebuah perusahaan ponsel terkemuka. Myersdorf menolak menyebutkan nama perusahaan tersebut, tapi ia mengatakan perusahaan itu berasal dari Asia.
Inovasi baterai baru itu berdasarkan pada nanodots, semacam molekul peptide bio-organik. Nanodots mengubah cara sebuah baterai dalam menyerap dan menyimpanlistrik.Tak cuma handphone, baterai yang diklaim bisa terisi penuh hanya dalam 30 detik ini tersebut dapat digunakan pada mobil listrik. Meskipun prototipe baterai tersebut masih terlalu gemuk untuk ukuran sebuah ponsel, StoreDot optimistis baterai tersebut akan tersedia untuk ponsel pada 2016. (video).
Air Umbrella

Payung Udara atau “Air Umbrella” ini desainnya berubah total – hadir `tanpa atap` – di bagian atasnya menyemburkan udara (angin) deras untuk melindungi pengguna dari air hujan. Air Umbrella atau “payung angin / udara” merupakan invisible umbrella alias payung tak terlihat, yang mengeluarkan aliran udara untuk `melawan` derasnya air hujan. Dengan demikian, saat Anda membuka payung inovatif ini Anda tak akan lagi mengganggu orang di sekitar.
Proyek yang dikembangkan oleh startup yang juga mengatasnamakan dirinya sebagai Air Umbrella ini berharap dapat merevolusi industri payung. Tujuannya adalah untuk merancang payung yang berbeda dari yang lain. Aliran udara pada payung ini akan menyembul ke atas untuk menangkis air hujan.
Mengutip laman Kickstarter, Air Umbrella tersedia dalam tiga varian: versi A memiliki panjang 30 cm, versi B 50 cm, dan versi C 50 hingga 80 cm. Sedangkan untuk masa pakai baterainya, baterai versi A dapat bertahan hingga 15 menit, sementara versi B dan C sekitar 30 menit.
Bagi yang tertarik, Anda bisa melakukan pemesanan awal di sini dengan harga mulai US$ 88 atau Rp 1 jutaan hingga US$ 108 atau sekitar Rp 1,3 juta. Ketika sudah beredar di pasaran, harga Air Umbrella naik menjadi US$ 128 atau Rp 1,5 jutaan hingga US$ 148 atau Rp 1,8 jutaan (video).
Kartu Kredit Digital

Sebuah kartu kredit digital atau “Digital Credit Card” baru dengan tampilan LCD diluncurkan peresmiannya pada awal tahun 2014 lalu. kartu kredit ini akan serupa dalam ukuran dan bentuk, memiliki 12 tombol dan display dengan baterai yang bertahan hingga tiga tahun!
Penggunanya akan diminta memasukkan nomer PIN setiap kali berbelanja online, kemudian kartu ini akan menampilkan security code yang harus dimasukkan ke dalamwebsite. Jika kode yang diotorisasi oleh server telah dinyatakan oke, maka pembeliannya akan disetujui.
Kartu baru keluaran Visa ini akan menambah penjualan secara online melalui internet, karena selama ini biasanya kita khawatir untuk membeli secara online karena tak aman, banyak penipuan. Maka dengan kartu ini diharapkan akan membantu kita supaya tak takut lagi untuk berbelanja online. (video).
Baterai Berbahan Dasar Air

Tim ilmuwan dari University of Southern California (USC) mencari alternatif baterai organik bebasis air yang bebas dari isu mudah panas saat digunakan. Temuan ini diklaim lebih murah, lebih ramah lingkungan dan berpotensi untuk scaling up untuk digunakan dalam angin dan pembangkit listrik bertenaga surya karena dapat menyimpan energi yang lumayan besar.
Teknologi yang dikembangkan oleh tim USC merupakan baterai beraliran redux organik. Para peneliti menyebut hasil temuan ini serupa dengan yang dikembangkan untuk Helios drone bertenaga listrik oleh NASA. Cara kerja baterai yang mengandung bahan kimia elektroaktif ini memompa sel dan membagi membran untuk menghasilkan tenaga listrik.
Jumlah energi yang tersimpan tergantung seberapa besar kapasitas baterai itu sendiri. Baterai ramah lingkungan ini juga memiliki daya tahan lebih lama dibanding baterai lithium-ion dan varian lainnya.
“Baterai dapat bertahan hingga 5.000 kali pengisian ulang, tim peneliti memprediksi umurnya dapat bertahan hingga 15 tahun,” kata Sri Narayan, Profesor Kimia di USC Dornsife College of Letters, Arts, and Sciences, seperti dikutip laman Gizmag, Senin 30 Juni 2014.
Lebih lanjut Profesor Sri Narayan menjelaskan perbedaan baterai Lithium ion yang kualitasnya menurun setelah 1.000 kali isi ulang dan biaya untuk memproduksi satu buah baterai 10 kali lebih mahal.
Kunci utama yang menjadikan baterai ramah lingkungan yakni penggunaan bahan elektroaktif. Melalui serangkaian uji coba, peneliti mengembangkan senyawa organik teroksidasi yang disebut kuinon. Kuinon ditemukan pada tanaman, jamur, bakteri, dan beberapa hewan yang terlibat dalam proses fotosintesis dan respirasi selular.
Tim melihat teknologi sebagai sebuah bagian dari upaya menghemat biaya dan lingkungan. Kuinon saat ini diproduksi dari hidrokarbon aktif, bukan dari karbondioksioda. Sayangnya dalam penelitian ini, tim belum mengujicoba penggunaan baterai ramah lingkungan tersebut langsung ke perangkat pintar. (video).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar